Harmoni Tangan Mungil: Merawat Tradisi Lewat Karawitan di SDN Kemasan 03 Polokarto
Di sebuah sudut Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, alunan magis nan menenangkan mengudara, memecah hiruk-pikuk aktivitas siang hari. Suara denting saron yang berpadu dengan ketukan kendang yang ritmis serta gaung gong yang berwibawa itu berasal dari lingkungan sekolah SDN Kemasan 03. Di sinilah, tunas-tunas muda penerus bangsa tengah asyik menyelami dan melestarikan warisan agung leluhur melalui kegiatan seni karawitan. Kegiatan ekstrakurikuler ini bukan sekadar rutinitas pengisi waktu luang, melainkan sebuah denyut nadi pelestarian budaya Jawa nguri-uri kabudayan Jawi yang sangat patut diapresiasi dan dibanggakan.
Dalam menggembleng potensi dan bakat seni anak-anak didiknya, SDN Kemasan 03 menjalin kerja sama yang erat dengan Sanggar Dhemes, salah satu sanggar seni lokal yang konsisten merawat tradisi. Sinergi ini menghadirkan ruang belajar yang berkualitas dan terarah bagi para siswa. Pembinaan kegiatan karawitan ini dipercayakan langsung kepada Bapak Wiji, seorang pelatih yang dikenal sabar, telaten, dan berdedikasi tinggi. Di bawah bimbingan Bapak Wiji, anak-anak diajarkan teknik menabuh gamelan secara bertahap, mulai dari pengenalan laras, irama, hingga pemahaman dinamika gending Jawa.
Suasana saat latihan berlangsung terasa begitu hangat dan membanggakan. Anak-anak sekolah dasar yang di era modern kerap identik dengan gawai, justru tampak antusias duduk bersila di balik perangkat gamelan. Sebagian besar dari mereka mengenakan busana tradisional Jawa yang bersahaja; anak laki-laki tampak gagah dengan penutup kepala blangkon dan kemeja lurik, sementara anak perempuan terlihat anggun dengan balutan kebaya. Dengan arahan yang cermat dari Bapak Wiji, jari-jari mungil para siswa mulai menari dengan luwes di atas wilahan saron, demung, dan slenthem.
"Ting... tung... nang... ning... gung!" Bunyi tabuhan perlahan mengalun, membangun sebuah harmoni yang syahdu. Sang pengendang cilik, yang bertugas menjaga tempo, tampak memicingkan mata penuh konsentrasi mengikuti ketukan dan arahan Bapak Wiji. Tangannya dengan sigap menepuk kulit kendang untuk mengatur ritme gending. Di sudut lain, beberapa siswi yang bertugas sebagai waranggana atau sinden cilik melantunkan tembang-tembang dolanan anak dengan vokal yang jernih dan polos, menyatu sempurna ke dalam alunan gamelan.
Kegiatan karawitan hasil kolaborasi antara SDN Kemasan 03 dan Sanggar Dhemes ini memberikan dampak pembentukan karakter yang amat positif. Di balik setiap instrumen yang ditabuh, Bapak Wiji senantiasa menyisipkan pesan moral tentang pentingnya rasa tepa selira (tenggang rasa), kedisiplinan, dan kebersamaan. Bermain karawitan mengajarkan anak-anak bahwa harmoni tidak akan tercipta jika ada satu instrumen yang ingin menonjol sendiri; semuanya harus berjalan seirama dan saling mendengarkan.
Dukungan penuh dari pihak sekolah, para guru, serta paguyuban orang tua murid menjadi pilar penyangga utama bagi keberlanjutan program seni ini. Senyum puas dan lega yang mengembang di wajah anak-anak sehabis latihan menjadi bukti bahwa seni tradisi masih memiliki tempat istimewa di hati generasi muda. Dari tangan-tangan mungil siswa SDN Kemasan 03 Polokarto, dengan bimbingan telaten Bapak Wiji dan Sanggar Dhemes, warisan budaya karawitan akan terus bergema dan terjaga kelestariannya hingga masa depan.
Berlangganan Artikel


Tidak ada komentar:
Posting Komentar